Siapa di Balik Al-Quran itu

Proses Menganalisa Kesahihan Al-Quran.

Di dalam disiplin sejarah sebagai cabang sains sosial, sebelum satu-satu bahan mau dijadikan rujukan kajian, proses menganalisa ketulenan bahan tersebut harus dilakukan terlebih dahulu. Apakah benar koin yang ditemukan itu, merupakan koin asli, atau koin palsu. Apakah benar teks tulisan seorang tokoh itu, benar-benar ditulis oleh beliau, dan teks itu merupakan teks asal.


Atas dasar yang sama, proses mengedit dan menyaring manuskrip, membutuhkan ke setidaknya tiga salinan berbeda untuk manuskrip yang sama, sehingga perbandingan bisa dilakukan untuk mengontrol keaslian bahan yang dikaji. Soalnya, sebelum debat atau kritik mau diterapkan pada Al-Quran, seseorang itu harus memeriksa apakah al-Quran itu benar, murni, atau palsu serta rekaan semata.

Logikanya mudah.

BUKU PETA

"Hmm, ingin tahu A-Z London ini. Takut sesat ", kata Ahmad ketika di Bandara Heathrow. Baru pertama kali ia menginjakkan kaki ke kota London. Ahmad menuju ke toko buku, untuk menemukan peta yang bisa memandunya selama keberadaan beliau di kota London.

"Hmm ... dicetak di Bangalore!", Ahmad terkejut.

Peta yang cantik, komprehensif dan murah di tangannya itu dicetak di Bangalore. Peta London dicetak di India!

"Aduh, di cetak tahun 1985!", Kata Ahmad menambahkan terkejutnya dia.

Peta London dicetak di Bangalore, India, pada tahun 1985! Apakah Ahmad akan membelinya untuk dijadikan panduan agar tidak sesat selama berada di kota London? Tentu saja Ahmad tidak akan membelinya. Ahmad meragukan keabsahan peta tersebut, biar pun ia diberikan gratis.

Benar sekali. Kita tidak akan menjadikan sesuatu yang kita ragui kesahihannya sebagai panduan.

QURAN PULA

Coba lihat al-Quran. Di'turun'kan di Arab Saudi.

Masya Allah.

Fahamkah al-Quran ini dengan isu di Eropa atau di Indonesia? Di'turun'kan bukan pada tahun 1985, tetapi lebih 1430 tahun yang lalu! Allahu Akbar! Apakah al-Quran ini paham situasi manusia pada tahun 2008 sedangkan ia sudah ada lebih seribu tahun yang lalu. Sejauh mana keyakinan kita kepada kebenaran al-Quran?

"Alif Laam Miim. Itulah al-Kitab (al-Quran), tidak keraguan di dalamnya, menjadi petunjuk bagi orang-orang yang bertaqwa "
[Al-Baqarah 2: 1-2]

Al-Quran memperkenalkan dirinya sebagai petunjuk, untuk orang-orang yang bertaqwa. Tetapi Persyaratan besarnya adalah, al-Quran itu tidak dihinggapi keraguan. Tidak ada keraguan di dalamnya. Maka menjadi tes bukan saja ke atas manusia yang tidak atau belum mempercayai al-Quran, bahkan pada Muslim yang mengklaim dirinya pengikut al-Quran, harus membuat ketentuan, di manakah letaknya keyakinan beliau tentang keabsahan al-Quran.

Jika seorang Muslim mempercayai bahwa al-Quran itu adalah kalam Allah, Tuhan yang Satu, maka di manakah buktinya? Jika seorang non-Muslim mau mempertikaikan al-Quran, berbicara tentang al-Qur'an, mengimani atau mengkufurinya, sudahkah diperiksa posisi al-Quran tersebut?

Jika Anda menolak al-Quran, apakah alasannya?

Jika Anda mau mengimaninya, apakah dasarnya?

Oleh yang demikian itu, setiap kita harus mengimani al-Quran yang dipilih, bukan menerima al-Quran sekadar suatu warisan. Soalnya, di manakah kebenaran al-Quran itu akan ditentukan?

Bahasa

Ada berbagai cara yang bisa kita gunakan untuk memeriksa al-Quran. Apakah ia benar kalam Tuhan, kalam insan, atau apa?

Awalnya, mungkin pada aspek bahasa. Bagi yang pernah belajar bahasa Arab, mencoba centang kembali karangan Bahasa Arab kita saat SRP / PMR beberapa tahun yang lalu ...

Hadhizi madrasati. Madrasati kabiratun, waasi'atun, mulawwanatun, jamilatun, mahbubatun ...! "

Tahniah, Anda telah mendapatkan 'A' untuk Bahasa Arab setaraf itu. Malu rasanya membaca tulisan sendiri.

Betapa rendahnya kualitas Bahasa Arab kita pada masa itu, dibandingkan dengan beberapa tahun setelahnya. Sama juga dengan bahasa-bahasa yang lain. Coba lihat al-Quran. Mampukah dari aspek bahasa, kita bedakan ayat-ayat tahun 1, dan ayat-ayat tahun ke-23? Nampakkah bedanya dari segi bahasa di antara Iqra ', Bismi Rabbikalladhee khalaq dengan Idhaa jaa'a nasrullaahi wal fath?

Bahasa al-Quran sungguh konsisten. Tidak ada bahasa matang dan pra matang dalam waktu 23 tahun ia terbentuk. Nyata sekali, konsistensi bahasa al-Quran adalah sesuatu yang mustahil untuk manusia. Tidak ada manusia yang mampu mempertahankan konsistensi bahasa seperti bahasa al-Quran.

Jika tidak manusia yang mampu berbahasa secara tinggi lagi konsisten sebagaimana bahasa al-Quran, maka tidak masuk akallah untuk al-Quran itu dinisbahkan kepada setiap manusia, biar sepakar mana sekali pun dia di dalam bahasanya, karena konsistensi bahasanya di luar kemanusiaan. Sesungguhnya ia bahasa Tuhan.

Pihak yang berbicara di dalam al-Quran itu bukan manusia.

Bukan Muhammad.

Sesungguhnya Dia yang berbicara di dalam al-Quran itu adalah Tuhan. Allah Subhanahu wa Ta'aala pengucap firman. Tapi sudah tentu, untuk memeriksa keabsahan al-Quran dari sudut ini, Anda harus punya upaya Bahasa Arab.

ASBAB NUZUL (SEBAB TURUN AYAT)

Ketika Aishah radhiyallahu 'anha difitnah oleh kelompok Munafiq dengan tuduhan zina (Kisah al-Ifk), Nabi Muhammad SAW dan seluruh umat Islam hidup dalam keresahan. Rancaknya golongan Munafiq mengadu domba memburuk-burukkan Ummu al-Mu'mineen ketika itu, ditambah lagi dengan adanya 'argumen pembelaan' dari al-Quran.

Jika al-Quran ini karangan Muhammad, maka pada saat-saat itulah Muhammad sangat perlu mengarang sesuatu untuk membela istrinya. Tetapi ia tidak terjadi sedemikian rupa. Tatkala istrinya terfitnah, tes ditambahkan dengan 'tiada'nya ayat al-Quran baru yang' turun 'membela. Sampai Muhammad sendiri terdongak-dongak ke langit menunggu sesuatu.

Karena al-Qur'an itu adalah kalam Tuhan.

Firman Allah.

Saat Aishah terfitnah, Allah menguji Muhammad SAW, Aishah dan seluruh umat Islam dengan 'menahan' wahyu. Sampai akhirnya Allah membebaskan Aishah dan membersihkan maruahnya dengan terwahyunya ayat-ayat di dalam surah al-Noor (24: 1-26).

Ia suatu peristiwa yang dicatat sejarah, betapa Muhammad tidak upaya untuk mendatangkan Al-Quran, biar pun pada saat yang paling kritis, melainkan pada apa yang diterima oleh beliau dari Sumber al-Quran, iaitulah Tuhan, Allah Subhanahu wa Ta'aala sendiri.

Namun sudah tentu kisah ini tidak relevan untuk yang menolak literature Muslim, khususnya Hadits Nabi Muhammad SAW

MATEMATIK YANG UNIVERSAL

Mencari kebenaran al-Quran, bahwa the absolute truth itu ada padanya, mungkin membutuhkan kepada pendekatan yang lebih universal. Bahasa universal yang dapat diterapkan oleh siapa saja, berbekalkan akal pembeda manusia dari binatang. Gunakan matematika dan teori probabilitas yang kita semua tahu.

Kita semua ketahui bahwa di antara keistimewaan Al-Quran adalah pada keberadaan fakta-fakta Sains yang mengagumkan. Begitu banyak penemuan Sains yang hanya ditemukan pada era modern ini, telah tercatat dengan jelas di dalam al-Quran, teks yang telah ada sejak lebih 1000 tahun yang lalu, era yang masih jauh dari upaya manusia menganalisa alam dengan disiplin sains.

Dari manakah datangnya fakta-fakta yang benar itu?

"Aghhh ... mungkin hanya lucky guess!", Jawab segelintir yang tidak atau belum mengimani al-Quran. Baiklah, kita terima alasannya bahwa fakta Sains di dalam al-Quran hanyalucky guess, oleh 'penulis'nya bernama Muhammad. Dengan menggunakan teori probabilitas, mampukah Muhammad membuat 'lucky guess' di dalam al-Quran?

0 Response to "Siapa di Balik Al-Quran itu"

Posting Komentar